Halaman

MENYEMBELIH KEMISKINAN

Oleh:Mohammad Ni'amulloh
Idhul Adha telah lewat, Hari besar ini sangat  bermakna bagi kita, terutama bagi para fakir miskin, sebab saat idhul adha mereka punya kesempatan menikmati daging qurban yang jarang mereka rasakan setiap harinya.

Idhul Adha'atau hari raya qurban disamping mempunyai makna vertikal,yaitu mengeratkan hubungan dengan Allah SWT, juga berdimensi horizontal, yaitu kepekaan dan kepedulian social.

Qurban sebagai taqarrab pada Allah mengajarkan kepada kita tunduk total pada segala perintah Allah SWT dan tabah atas segala ujian dariNya, sebagaimana contoh dalam historis yang yang dijalani oleh Nabi Ibrahim, Nabi Isma'il dan Siti Hajar ( istri nabi Ibrahim).

Sedangkan Qur'ban dalam dimensi social mendorong kepada umat islam, terutama bagi para aghniya'( orang kaya) agar mau menyisihkan sebagian hartanya supaya bisa dinikmati orang-orang yang masih dalam garis kemiskinan.
  Hukum berqurban memang terjadi perselisihan di kalangan ulama'.  Menurut jumhur ulama' berqurban hukumnya sunnah Muakkad,  namun menurut sebagian ulama' yang lain, yaitu Imam Auza'I, Abu Hanifah dan Allaits hukum berqurban wajib bagi orang kaya.

Saat kita melihat melihat media masa, baik cetak, elektronik maupun online, kita jumpai umat Islam terutama para pejabat dan pengusaha berlomba-lomba berqur'ban, tentunya kita senang, namun apakah hanya berhenti disitu saja, haruskah idhul adha hanya menjadi ritual tahunan semata ? , sementara orang faqir miskin senantiasa membutuhkan uluran tangan agar bisa hidup layak.

Potret kemiskinan di Indonesia masih memprihatinkan, sekalipun pemerintah mengklaim telah mengklaim telah mengurangi kemiskinan
Namun masih banyak ketimpangan kita jumpai dalam beberapa sektor kehidupan , misalkan banyaknya pertokoan masyarakat kecil yang gulung tikar karena mereka belum siap bersaing dalam pasar bebas. Para petani semakin berat menanggung hidup, karena biaya tanam yang bertambah mahal dan harga komoditas petani sering kali murah karena banyak yang tidak dilindungi. Ditambah lagi akhir-akhir ini sering terjadi cuaca buruk,sehingga banyak yang gagal panen. Hal ini juga di alami oleh para nelayan.Belum lagi bencana yang datang silih berganti dan korupsi yang semakin menggurita membuat daftar orang miskin baru di Indonesia semakin panjang.

Kita tahu apalah artinya daging qurban yang hanya dirasakan setahun sekali oleh orang miskin dibanding dengan dengan penderitaan yang mereka hadapi setiap hari.Dari sini hendaknya kita memaknainya dengan lebih luas, agar ibadah qurban tidak lewat begitu saja. Ibadah qurban bukanlah semata-mata menyembelih qurban tapi juga menyembelih kemiskinan.
Bila demikian, kita hendaknya tidak hanya berqurban saat idhul adha' tapi juga senantiasa mengorbankan harta, fikiran dan tenaga yang kita miliki untuk menyembelih kemiskinan dan mengidupkan kemakmuran.
Seluruh komponen bangsa mulai dari sekup keluaraga hingga pucuk pimpinan hendaknya bahu-membahu untuk memerangi kemiskinan semaksimal mungkin.

Bagi yang pemegang kekuasaan, hendaknya terus menguatkan perundang-undangan yang bersinggungan dengan orang orang miskin, serta sungguh-sunguh dalam implementasinya, sebab hal ini juga bagian dari amanah konstitusi. Hal ini bisa dilakukan dengan membangun perekokomian yang pro poor, menguatkan Undang undang zakat secepat mungkin, mengingat zakat punya kekuatan besar untuk mengentaskan kemiskinan. Di prediksi potensi zakat di Indonesia bila maksimal bisa terhimpun hingga seratus triliun.. Dan yang penting lagi lebih serius menegakkan hukum yang berkeadilan, agar uang rakyat aman dari tindakan korupsi.

Sedangkan masyarakat yang mampu ( aghniya'), hendaknya senantiasa mengulurkan tangannya bagi saudara-saudara mereka yang masih miskin dengan sadar membayar pajak dan zakat.Disamping itu juga berqurban, waqaf , berinfaq dan shadaqah. Masyarakat hendaknya tidak terlalu berpangku tangan kepada pemerintah dalam pengentasan kemiskinan.

Semoga qurban menjadi momentum bagi seluruh elemen bangsa untuk mau mengorbankan potensinya masing-masing yang dimiliki untuk membantu sesamanya yang masih dibawah garis kemiskinan, sehingga umat dan bangsa ini bisa hidup layak dan bermartabat.